Rabu, 15 Agustus 2012

Fanfiction : CEWEK BADUNG (Part 6)

Lanjut




Setelah Nada, Rasty, Flora, dan Siska lama keliling sekolah mereka, akhirnya mereka pun melihat Cinta di lapangan basket yang cukup jauh dari gedung SMU Global Internasional tersebut. Lapangan itu juga jarang dipakai.

Nada : “Cinta.” panggil Nada setelah dia berada di pinggir lapangan basket tersebut.”

Rasty, Flora, dan Siska pun segera berlari menyusul Nada ke lapangan basket tersebut.

Cinta : “Ngapain loe, disini? Sama temen-temen loe, pula.” tanya Cinta ketus sambil memasukkan bola basket yang ada di kedua tangannya kedalam ring, dan masuk.”

Nada : “Semua temen-temen aku juga temen-temen kamu kok, Cin.” ucap Nada sambil tersenyum.”

Cinta : “Gw nggak pernah ngerasa temenan sama temen-temen loe, itu.” ucap Cinta sinis.”

Rasty : “Cinta, walaupun sikap loe nggak ngenakin banget sama kita. Tapi, kita tetep mau kok temenan sama loe. Bukan karena loe kakaknya, Nada.” sambung Rasty.”

Cinta pun melihat Rasty dengan tatapan matanya yang tajam. Dan membuat Nada, Flora, dan Siska merasa heran, apalagi Rasty orang yang ditatap.

Nada : “Cin, kok kamu ngeliatin Rasty gitu banget sih?” tanya Nada heran.”

Cinta : “Penting yah, gw jawab pertanyaan loe.” jawab Cinta ketus, dan segera berlari ke arah tas sandangnya yang berada di tiang ring untuk mengambil minum, karena merasa haus.”

Batin Cinta : “Ntar, loe juga tau sendiri Nad apa maksud tatapan gw itu ke Rasty.” ucap Cinta dalam hati sambil meminum air minumnya.”

Cinta : “Mendingan loe semua balik ke kelas, deh.” perintah Cinta dengan santai sambil menaikkan alis kirinya.”

Nada : “Kita bakal balik ke kelas, kok. Tapi, kamu harus ikut sama kita.” ucap Nada sambil melihat ke arah Cinta yang sedang berdiri di tiang ring.”

Belum sempat Cinta membalas ucapan Nada, tiba-tiba handphone-nya berdering. Cinta pun segera mengambil handphone-nya itu yang berada di dalam tas sandangnya, lalu segera mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelponnya itu terlebih dahulu.

Cinta : “Hallo.” sapa Cinta kepada si penelpon.”

“Hallo juga, Mikha sayang.” ucap si penelpon tersebut dengan mesranya.”

Cinta : “Siapa, nih.” ucap Cinta bingung.”

“Nih gw, Raya. Masa’ sama suara cewek loe sendiri, loe lupa sih.” ucap si penelpon tersebut, yang ternyata bernama Raya dengan nada ngambek.”

Cinta : “Oh, Raya. Ada apa, Ray? Kok loe nelpon gw di jam sekolah gini, sih?” tanya Cinta.”

Raya : “Emangnya loe nggak ngeliat dulu, siapa yang nelpon loe?” tanya Raya.”

Cinta : “Nggak.” jawab Cinta singkat.”

Raya : “Emangnya gw nggak boleh nelpon cewek gw, sendiri?” tanya Raya masih ngambek.”

Cinta : “Bukannya nggak boleh, Ray. Tapi…” ucap Cinta terputus, karena Raya sudah menyambung perkataan Cinta barusan.”

Raya : “Tapi apa sih, Kha? Jangan bilang kalo loe mau sekolah. Gw udah tau banget tentang loe, Kha. Sekarang aja gw nggak yakin, kalo loe ada di dalam kelas loe. Loe kan sering cabut dari sekolah. Buktinya, nafas loe aja sampe’ kedengeran di kuping gw.” ucap Raya yang membuat Cinta tertawa kecil, dan membuat Nada, Rasty, Flora, dan Siska heran.”

Nada : “Kok Cinta ketawa gitu, sih? Sama aku aja Cinta nggak pernah senyum sama sekali, apalagi ketawa.” ucap Nada sambil berbisik, biar Cinta tidak bisa mendengarnya.”

Rasty : “Gw juga nggak tau, Nad. Eh ngomong-ngomong, yang nelpon Cinta itu siapa sih?” tanya Rasty.”

Siska : “Cowoknya dia, kali.” celetuk Siska.”

Nada : “Kok kamu bisa berpikiran kayak gitu, Sis?” tanya Nada.”

Siska : “Ya, buktinya aja dia ketawa-ketawa tadi.” jawab Siska.”

Flora : “Emangnya kalo Cinta ketawa kayak gitu,  itu berarti cowoknya yang nelponin dia.” sambung Flora.”

Rasty : “Mendingan, ntar kita tanya sama Cinta aja siapa yang nelpon dia.” usul Rasty.”

Siska : “Gw sih nggak yakin, kalo si Cinta bakal bilang sama kita. Orang dia sendiri aja nggak pernah deketin kita, apalagi bilang sama kita.” ucap Siska pesimis.”

Nada : “Yang aku dengar sih Cinta manggil yang nelpon dia itu, Ray.” ucap Nada tiba-tiba.”

Rasty-Flora-Siska : “Ray.” ucap mereka serempak.”

Rasty : “Gw punya ide, nih.” ucap Rasty.”

Nada : “Ide apa, Ras?” tanya Nada penasaran.”

Rasty : “Gw punya ide, gimana kalo Flora ngelacak nomor handphone-nya Cinta. Biar kita tau siapa si Ray, itu.” usul Rasty.”

Nada : “Nggak. Aku nggak setuju. Itu sama aja ngeganggu privasi orang lain. Lagian, Cinta juga sering gonta-ganti nomor HP.” ucap Nada.”

Flora : “Kalo nomor HP yang paling sering dipake’ sama Cinta kamu tau kan, Nad?” tanya Flora.”

Nada : “Walaupun aku tau, aku nggak bakal ngasih tau ke kalian.” jawab Nada.”

Siska : “Yaelah, Nad. Pelit banget sih, loe.” ucap Siska.”

Nada : “Biarin.” ucap Nada.”

Kembali ke Cinta.

Cinta : “Itu karena gw habis main basket, tadi.” ucap Cinta santai.”

Raya : “Main basket kan, Kha? Bukan “main” sama cowok.” tanya Raya.”

Cinta : “Ya main basket, lah. Jorok banget sih, loe.” ucap Cinta.”

Raya : “Ya gw nggak mau aja, loe selingkuhin gw.” ucap Raya.”

Cinta : “Gw nggak ada niat buat selingkuh.” ucap Cinta agak kesel.”

Raya : “Kha, loe dateng dong ke Blue Club. Gw udah kangen banget sama loe.” ucap Raya dengan nada manja.”

Cinta : “Gw bakal dateng kok, kesana. Tapi, ntar malam.” ucap Cinta.”

Raya : “Pokoknya, loe harus dateng ke Blue Club sekarang juga. Kalo nggak, gw bakal dateng ke sekolah loe sekarang.” ucap Raya ngancam.”

Cinta : “Loe nggak boleh dateng ke sekolah gw. Oke, oke. Gw bakal ke Blue Club sekarang juga.” ucap Cinta.”

Raya : “Thanks ya, sayang. I Love You.” bisik Raya ditelpon.”

Cinta : “Udah dulu ya, Ray. Bye.” ucap Cinta yang ingin mematikan handphone-nya.”

Raya : “Jawab dulu dong, Kha.” pinta Raya.”

Cinta : “Iya, iya. I Love You Too.” ucap Cinta, dan segera mematikan handphone-nya.”

To Be Continued

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar